Ramalan Jayabaya Soal Mitos Pulau Jawa Terbelah Berkaitan dengan Meletusnya Gunung Semeru


 


Ramalan Jayabaya Soal Mitos Pulau Jawa Terbelah Berkaitan dengan Meletusnya Gunung Semeru /Instagram/@gunungsemeru3676mbpl

MEDIA BLTAR – Lestusan Gunung Semeru, ketahui ramalan Jayabaya tentang mitos Pulau Jawa yang akan terbelah menjadi dua.

Tak ada yang menyangka Gunung Semeru kembali erupsi memakan sejumlah korban luka bakar, meninggal, hingga ada yang hilang.

Dengan meletusnya Gunung tertinggi di Pulau Jawa pada 4 November 2021, ada sejumlah aliran kepercayaan yang mengaitkan dengan ramalan jayabaya.

Sebelum erupsi pada tahun 2021, Gunung Semeru sempat terjadi sangat besar pada 200 tahun lalu yakni 8 November 1818.

Kemudian, Gunung dengan tinggi 3.676 Mdpl ini meletus kedua kalinya pada 2 Februari 1994 dan pada tahun 2000an terjadi 8 kali erupsi.

Letusan terbesar terjadi pada Natal 2002 dan pada 1 Desember 2020 Gunung Semeru kembali meletus dengan guguran awan panas dari puncak jarak luncur 2-11 kilometer.

Kini puncak Mahameru kembali erupsi menjelang akhir tahun 2021 yang dikait-kaitkan dengan ramalan Jayabaya.

Jayabaya adalah raja Kerajaan Kediri yang memerintah sekitar abad ke-12 dan visioner yang unggul.

Dalam ramalan kitab Jangka Jayabaya pada bait ke-164 sang Raja mengatakan suatu saat Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua.

Dari kitab Jangka Jayabaya, bait ke-164 sang raja berucap suatu saat Pulau Jawa akan terpotong menjadi dua.

Dengan ramalan Jayabaya tersebut, kali ini banyak yang meyakini mitos Jawa terbelah akan terjadi.

Banyak masyarakat meyakini jika Ramalah Jayabaya selalu terbukti. Satu hal yang terbukti adalah masa menjelang perang kemerdekaan yakni saat Jawa dijajah Jepang.

Satu ramalan Jayabaya yang terbukti adalah: seumur jagung (3,5 bulan) yang dimaknai dijajah 3,5 tahun.

Kemudian yang kembali viral adalah mitos pulau Jawa yang akan terbelah.

Akan tetapi, dalam ramalan tersebut kuncinya adalah Gunung Slamet meletus.

Konon jika Gunung Slamet meletus dahsyiat, maka pertanda Pulau Jawa akan terbelah dua.

Mitos paku Jawa

Gunung Semeru yang berada di antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Sabtu, 4 Desember 2021, meletus.

Di samping meletusnya Gunung Semeru pada tahun ini, terdapat mitos-mitos yang menyelimuti gunung berketinggian 3.676 mdpl ini yang dipercayai oleh masyarakat.

Gunung Semeru juga merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak diburu oleh pendaki dan wisatawan.

Ditambah dengan adanya sejumlah ranu atau danau di sekitar Gunung Semeru seperti Ranu Pane, Ranu Kumbolo, dan Ranu Regulo yang memiliki mitosnya tersendiri.

Berikut 5 mitos Gunung Semeru dari berbagai sumber:

  • Paku Pulau Jawa

Konon ada sebuah legenda dalam kitab kuno abad ke 15 yang menyebut kalau Pulau Jawa dahulu kala mengambang di lautan dan terombang-ambing.

Melihat itu, para Dewa kemudian memutuskan untuk menancapkan Pulau Jawa dengan paku yakni Gunung Semeru. Dalam kitab tersebut, gunung ini konon dibawa dari India oleh Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.

  • Kuncen Gunung Semeru Mbah Dipo

Mbah Dipo diketahui merupakan kuncen atau juru kunci di Gunung Semeru. Dia telah meninggal dunia pada 2005.

Masyarakat sekitar percaya bahwa Mbah Dipo memiliki keahlian menangkap pesan dari makhluk tak kasat mata di Gunung Semeru.

Ada sebuah mitos yang menyebut kalau Gunung Semeru meletus, maka disarankan untuk pergi ke arah sungai, jangan ke arah Gunung Sawur.

  • Misteri Kawasan Kelik

Kawasan Kelik adalah lokasi di mana terletak beberapa batu sebagai semacam "nisan" orang-orang yang meninggal dunia di Gunung Semeru.

Salah satunya milik Soe Hok Gie. Konon, di kawasan Kelik para pendaki sering mengalami kesurupan oleh roh manusia atau roh binatang.

  • Tanjakan Cinta

Mitos paling populer di Gunung Semeru yakni adanya Tanjakan Cinta. Konon tanjakan yang tak terlalu curam ini memiliki mitos yang dikaitkan dengan kisah percintaan.

Jika pendaki yang datang berjalan melewati Tanjakan Cinta tanpa istirahat dan tidak menoleh ke belakang, maka kisah percintaan yang diharapkan akan terkabul.

Namun sebaliknya, jika pendaki beristirahat dan menoleh ke belakang saat berada di Tanjakan Cinta, maka kisah percintaannya akan sulit.

  • Dewi Penunggu Ranu Kumbolo

Konon, ada sebuat mitos yang menyebut ada seorang dewi yang menyerupai seorang wanita yang kerap muncul dengan mengenakan pakaian kebaya kuning dan kemunculannya ditandi dengan kepulan asap saat bulan purnama datang.

Disclaimer: Artikel di atas sebelumnya telah tayang di PikiranRakyat.com dalam judul Letusan Gunung Semeru dan Ramalan Jayabaya Tentang Mitos Pulau Jawa yang Terbelah.***

Lihat artikel asli

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel